Legenda Danau Hoan Kiem Lake, Hanoi

Hua-Quen lake Hanoi with The-Huc bridge

Hua-Quen lake Hanoi with The-Huc bridge (Image: Wikipedia)

Seperti janjiku di kisah sebelumnya hanoi-kota-bersejarah-nan-indah-part1, kali ini aku akan membahas tentang kisah yang ada dibalik Danau Hoan Kiem Lake yang sangat legendaris nan bersejarah ini.

Hoan Kiem Lake yang dalam bahasa Indonesia berarti Danau Kembalinya Pedang, dahulu kala merupakan bagian dari Sungai Merah.

Legenda danau ini berkisah tentang Raja Le Thai To (Le Loi) yang suatu hari sedang menaiki perahu menikmati keindahan danau dan tiba-tiba dari dalam danau muncul seekor kura-kura raksasa dan merebut kembali pedang yang dibawa oleh sang Raja. Pedang tersebut adalah pedang pusaka yang pernah dipakai sang Raja berperang dan memenangkan pertempuran melawan Dinasti Ming.

Legenda ini sangat menarik. Menyambut ASEAN Community 2015, sebagai sesama bangsa ASEAN, ada baiknya kita mengenal sejarah bangsa lain, disamping bangsa sendiri. Yuk simak kisah lengkapnya, tutup mata.. bayangkan kita berada di abad ke-14..

Awal Mula Kisah, Siapa Le Loi?

Le Loi lahir pada tahun1384, merupakan salah satu pahlawan besar Vietnam. Le Loi merupakan anak bungsu dari tiga anak bangsawan aristokrat di Lam So, provinsi Thanh Hoa, jauh di selatan Vietnam. Le Loi menjadi pemilik tanah dan administrator di daerah kelahirannya.

Pada tahun 1407, Vietnam berada di bawah kekuasaan Dinasti Ming, dari China, yang menyebabkan kesulitan besar bagi masyarakat Vietnam. Le Loi berjanji untuk membebaskan negaranya dari kekuasaan China, setelah Le Loi menyaksikan dengan mata kepala sendiri Militer Ming menghancurkan sebuah desa Vietnam.

Pada tahun1418, pada hari setelah Tet, Le Loi mundur dari jabatannya dan pindah ke bukit dekat rumahnya. Dari bukit tersebut, Le Loi meminta masyarakat untuk bergabung dengannya dan bangkit melawan penjajahan Cina. Pada awalnya pasukannya berjumlah sekitar 500 orang. Di bawah kepemimpinan Le Loi mereka menggunakan taktik gerilya, serangan langsung dan penyergapan terhadap tentara Cina di utara Vietnam, untuk melemahkan semangat tempur militer Cina.

Selanjutnya di tahun 1425, pemberontakan telah menyebar ke seluruh Vietnam dan tentara Ming mampu dipukul mundur dan dimusnahkan. Kaisar Ming yang baru berharap untuk mengakhiri perang dengan Vietnam, tetapi penasihatnya menyarankan strategi jitu untuk menaklukkan provinsi yang memberontak sehingga ia dikirim ke provinsi tersebut dengan pasukan besar sekitar 100.000 orang. Kekaisaran China pikir strateginya akan berhasil, tetapi ternyata tentara Le Loi  jauh lebih besar, berjumlah sekitar 350.000 prajurit dengan kuda dan gajah, perang psikologis juga digunakan dan penasehat militer Le Loi, Nguyen Trai, menekankan pentingnya kekuatan moral. Dia mengatakan itu ” lebih baik menaklukkan hati daripada benteng”.

Pertempuran berakhir pada tahun 1426 di Tot Dong. Jenderal China, Liu Shan, ditangkap dan dieksekusi oleh rakyat Vietnam. Kemudian Vietnam mengumpan tentara China ke Hanoi di mana mereka dikepung dan dihancurkan dalam serangkaian pertempuran. Banyak sumber mengatakan, tentara China hilang lebih dari 70.000 orang..

Saat Le Loi menjadi Raja Le Thai To

Pada tahun 1427, setelah sepuluh tahun perang melawan China, akhirnya China mengakui kemerdekaan rakyat Vietnam. Tahun berikutnya Le Loi menjadi raja yang bergelar Le Thai To (pendiri raja Le) dan mendirikan pemerintahannya di Hanoi. Raja Le Thai To sangat murah hati terhadap China yang dikalahkannya, Ia memberi mereka 500 jung dan ribuan kuda untuk membawa mereka kembali ke China.

Setelah resmi menjadi raja, Le Thai To mengatur pemerintahan Vietnamsecara signifikan, jelas berdasarkankan sistem Konghucu. Pemerintah pun membangun kembali infrastruktur Vietnam, membangun jalan, jembatan dan kanal-kanal. Tanah diberikan kepada prajurit yang telah berkontribusi selama perang melawan China. Pertanian didorong, mata uang baru dicetak dan undang-undang baru dan direformasi. Sistem Konghucu memilih administrator pemerintahan dengan tes dan ujian yang diadakan secara berkala. Negara ini didorong untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan dan kuat secara ekonomi. Dinasti Le berlangsung sampai 1788, dengan Hanoi pusat pemerintahan.

Patung Lee Thai To di taman yang juga didedikasikan untuknya. (Image:google)

Le Loi dipandang sebagai perwujudan sempurna dari pemimpin yang adil dan bijaksana. Dalam waktu singkat Le Loi telah menjadi seorang raja dan meletakkan dasar bagi kebesaran masa depan Vietnam. Setiap kota di Vietnam memiliki jalan raya yang dinamai Le Loi. Di Hanoi pun nama kerajaannya digunakan sebagai jalan Le Thai To, di mana patung  dan sebuah kuil dibangun dan didedikasikan untuk mengenang Raja yang telah membebaskan Vietnam dari penjajahan ini.

Taman Lee Thai To di Hanoi yang didedikasikan untuk Raja Vietnam yang paling adil dan bijaksana. (Image: google)

 

 

Legenda Kembalinya Pedang Pusaka

Dari sekian banyak legenda dan kisah tentang Le Loi, legenda yang paling terkenal yaitu tentang pedang pusakanya. Mirip dengan Raja Arthur dan pedangnya Excaliburnya, dikatakan pedang Le Loi memiliki kekuatan besar. Legenda mengatakan bahwa bilah pedang tersebut bertuliskan kata-kata ‘ The Will of Heaven ‘ (Thuan Thien), berasal dari Raja Naga di istana bawah airnya. Seorang nelayan, yang kemudian bergabung dengan tentara Le Loi, menangkap bilah pedang dijaringnya. Gagang pedang tersebut ditemukan oleh Le Loi sendiri di pohon beringin. Cerita yang beredar mengklaim bahwa Le Loi tumbuh sangat tinggi ketika ia menggunakan pedang tersebut dan memberinya kekuatan banyak orang.

le thai to

Ilustrasi Raja Le Thai To dan Golden Turtle (Image: http://www.vietnamtourism.info)

Legenda berawal ketika suatu hari, tidak lama setelah China mengakui kemerdekaan Vietnam, Le Loi sedang keluar naik perahu di Green Water Lake ( Luc Thuy ). Tiba-tiba muncul kura-kura besar, mengambil pedang dari sabuk Le Loi , dan menyelam kembali ke dasar danau, membawa pedang bersinar di mulutnya. Berbagai usaha dilakukan untuk menemukan baik pedang maupun kura-kura tersebut, tetapi tidak berhasil. Le Loi kemudian mengakui bahwa pedang sudah kembali ke Raja Naga dengan Golden Turtle (Kim Quy), dan dia menamakan danau tersebut ‘ The Lake of the Returned Sword  atau Danau Kembalinya pedang’ ( Hoan Kiem Lake ) .

The Turtle Tower

Di ujung utara Danau Hoan Kiem terdapat sebuah menara kecil yang dikenal dengan Thap Rua (Turtle Tower), menara ini dibangun untuk menghormati kura-kura ajaib yang masih menjaga pedang Le Loi .

Cerita berlanjut bahwa sekitar 1886, mandarin Vietnam yang melayani Perancis, membujuk pemerintah untuk memungkinkan dia untuk membangun sebuah menara di pulau itu. Apa yang dirahasiakan adalah niatnya untuk menguburkan jenazah ayahnya di Turtle Islet, yang dianggap sebagai tempat menguntungkan menurut kepercayaan feng shui tradisional. Namun,masyarakat kota mengetahui niatnya dan mereka membuang mayat ayahnya.

Tortel Tower (Thap Rua) yang berada ditengah Hoan Kiem Lake. (Image: Wikipedia)

Tortel Tower (Thap Rua) yang berada ditengah Hoan Kiem Lake.
(Image: Wikipedia)

Di atas Turtle Tower pernah berdiri sebuah patung versi dari Patung Liberty, yang ditempatkan oleh Perancis. Namun, patung tersebut hancur ketika pemerintahan Tran Trong Kim mengambil alih kota dari pemerintahan Perancis pada tahun 1945 .

Meskipun hanya bangunan berbentuk tempurung (kura-kura), sama sekali bukan gaya arsitektur Vietnam, dibangun oleh salah satu pengkhianat. Namun, bagi rakyat Hanoi,Thap Rua telah menjadi simbol penting  atas perdamaian dan patriotisme. Bendera revolusioner sering berkibar di sini selama masa perlawanan terhadap kekuasaan Perancis. Daerah hijau sepanjang Turtle Tower ini merupakan tempat di mana kura-kura berjemur di bawah sinar matahari dan bertelur.

This slideshow requires JavaScript.

Terlepas dari kisah sejarah dan legenda yang melekat pada tempat ini, masyarakat setempat masih percaya bahwa kura-kura besar yang berada di dalam danau tersebut adalah Golden Turtle (Kim Kue) yang merebut pedang sang raja yang hingga kini sudah berumur ratusan tahun. Sehingga pada setiap hari besar (liburan) masyarakat selalu berkumpul di sekitar danau menantikan kemunculan si kura-kura karena bagi yang melihatnya diyakini akan memperoleh keberuntungan. Bahkan ketika kura-kura tersebut muncul ke permukaan, pemerintah setempat juga mempercayai bahwa tahun tersebut akan membawa kemajuan dalam hal ekonomi, politik dan dalam segala aspek kehidupan.

Hoan Kiem Lake merupakan lokasi favorit penduduk setempat sebagai ajang rekreasi, berkumpul dengan teman-teman, keluarga bahkan kekasih. Banyak juga yang melakukan olahkraga di sini, dari lari, badminton, aerobik, yoga, dan  permainan tradisional Vietnam. Suasana di sekitar danau ini memang sejuk banget, mata akan dimanjakan dengan kehijauan pepohonan dan gaya tradisional arsitektur Vietnam. Yang pasti, danau ini gak pernah sepi..! Pagi, siang malam selalu ramai pengunjung.

Kalau jalan-jalan ke Hanoi, rasanya belum lengkap kalau belum berkunjung ke kawasan The Old Quarter Hanoi dan Danau Kembalinya Pedang ini.. Ohya terakhir, aku sisipin deh foto selfie di danau ini😀

 


I just enjoy this sweet feeling I ever had. Enjoy the joyful, share the happiness and make my world even more beautiful..


*Sejarah dan legenda dari berbagai sumber dan pengalaman penulis,, dan sebagian besar diterjemahkan dari situs ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s