Menikmati Sore di Bandung – jalan Asia Afrika (part 1)

Sudah setengah tahun saya tinggal di kawasan pusat kota Bandung. Hal ini sedikit menguntungkan, karena saya bisa dengan mudah mengakses tempat-tempat wisata maupun hiburan kota Bandung. Salah satu cara mengasyikkan menikmati sore hari di kota Bandung adalah dengan jalan-jalan sore di kawasan pusat kota ini. Saya akan sedikit berbagi pengalaman menikmati sore hari di kota Bandung dengan berjalan kaki sepanjang Asia Afrika – Cikapundung – Braga. Berjalan kaki sore hari di sepanjang kawasan ini memang lebih baik di akhir pekan, karena banyak juga turis-turis domestik maupun mancanegara yang menjalajahi kawasan ini. Namun, tak ada salahnya menjelajahi di hari kerja yang padat, sepulang kerja sempatkan diri melewati kawasan ini sebagai refreshing. Jangan lupa gunakan alas kaki yang nyaman dan tidak membuat kaki lecet😀

GoldenRute pertama dimulai dari jalan Asia Afrika, yang dipenuhi dengan gedung-gedung bersejarah peninggalan Belanda.  Di mulai dari simpang lima atau prapatan lima, berjalan kaki sore hari di sepanjang jalan Asia Afrika ini sangat mengasyikkan. Setiap sore, sering saya jumpai anjing golden yang sedang diajak jalan-jalan. Terkadang 2, 4, bahkan 6 ekor anjing golden yang diajak jalan-jalan!

Asiknya jalan di Asia Afrika ini adalah trotoarnya yang masih bisa digunakan dengan nyaman. Tak ada pedagang kaki lima di trotoar ini. Dengan hembusan angin sepoi-sepoi dan lalu lalang kendaraan, serta hiruk pikuk manusia, indahnya menikmati setiap langkah di jalan bersejarah ini. Bangunan sepanjang jalan Asia Afrika dipenuhi oleh perkantoran.

Berikut bangunan-bangunan bersejarah di jalan Asia Afrika yang menarik perhatian penulis:

1. Hotel Preanger

Grand Preanger

Pic: wikipedia

Grand Preanger

Dalam wikipedia dijelaskan bahwa pada tahun 1884, ketika para Priangan planters (pemilik perkebunan di Priangan ) mulai berhasil dalam usaha pertanian dan perkebunan di sekitar kota Bandung – dahulu bernama Priangan – mereka mulai sering datang untuk menginap dan berlibur ke Bandung. Kebutuhan mereka disediakan oleh sebuah toko di Jalan Groote Postweg (sekarang Jalan Asia Afrika). Tetapi kemudian toko itu bangkrut, sehingga pada tahun 1897 oleh seorang Belanda bernama W.H.C. Van Deeterkom toko itu diubah menjadi sebuah hotel dan diberi nama Hotel Preanger. Kemudian pada tahun 1920 berubah menjadi Grand Hotel Preanger .

2. Hotel Savoy Homann

Hotel yang paling unik menurut saya adalah Savoy Homann Bidakara Hotel (official website).

Hotel Savoy Homann

Pic: official website

Hotel Savoy Homann

Pic: wikipedia

Pendahulu hotel ini adalah Hotel Homann, milik keluarga Homann, yang dikenal akan sajian rijsttafel buatan Ibu Homann yang lezat. Pada tahun 1939, bangunan yang sekarang dirancang dengan desain gelombang samudera bergaya art deco karya Albert Aalbers. Untuk menegaskan kebesarannya, kata “Savoy” ditambahkan, yang ditambahkan pada tahun 1940 dan tetap demikian hingga tahun 1980-an. Setelah Kemerdekaan Indonesia, hotel ini diambil alih oleh oleh grup hotel Bidakara, sehingga namanya bertambah menjadi Savoy Homann Bidakara Hotel (Sumber: Wikipedia).

3. Tugu ”Bandoeng 0 Km”

Tugu “Bandoeng 0 km” atau titik nol kilometer kota Bandung terletak di depan Kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat.

Tugu Nol Kilometer

Pic: google.com

Pic: google.com

Uniknya di belakang tugu tersebut terdapat monumen kereta uap. Sejarahnya, gubernur Jenderal H.W. Daendels menancapkan tongkatnya pada posisi patok kilometer tersebut dan meminta Bupati Tatar Ukur R.A.A. Wiranatakoesoemah II memindahkan ibu kota Kabupaten dari Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) ke titik bekas tancapan tongkat (Wikipedia).

4. Museum Konfrensi Asia-Afrika (KAA)

Yang paling terkenal dari jalan Asia Afrika adalah museum ini, Konferensi Asia Afrika. Museum ini diresmikan pada tanggal 24 April 1980 bertepatan dengan peringatan 25 taun Konferensi Asia Afrika.

Museum KAA

Pic: wikipedia

Museum ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan Gedung Merdeka. Secara keseluruhan Gedung Merdeka memiliki dua bangunan utama, yang pertama disebut Gedung Merdeka sebagai tempat sidang utama, sedangkan yang berada di samping Gedung Merdeka adalah Museum Konferensi Asia Afrika sebagai tempat memorabilia Konferensi Asia Afrika (Wikipedia).

5. Gedung Merdeka

Gedung Merdeka adalah bersejarah gedung yang pernah digunakan sebagai tempat Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

Gedung Merdeka

Pic: google.com

Gedung Merdeka

Pic: google.com

Kini gedung ini digunakan sebagai museum yang memamerkan berbagai benda koleksi dan foto Konferensi Asia-Afrika yang merupakan cikal bakal Gerakan Non Blok pertama yang pernah digelar disini tahun 1955.

5. Sumur Bandung di Gedung PLN

Saya baru mengetahui adanya sumur bandung ini saat jalan-jalan sore suatu hari. Kala itu tak sengaja mengikuti gerombolan wisatawan domestik, ternyata di lantai dasar Gedung PLN terdapat Sumur Bandung.

Sumur Bandung

Pic: detik.com

Gedung PLN Bandung

Pic: google.com

Menurut Wikipedia, Sumur Bandung dipercaya mempunyai hubungan sejarah dengan berdirinya Kota Bandung.Ceritanya ketika rombongan bupati dan pengiringnya menyusuri Cikapundung mencari tempat yang pantas untuk mendirikan pusat kota yang cocok.Ketika bupati menancapkan tongkat lalu ditarik lagi, dari bekas tongkat itu keluar air. Di lokasi air tersebut selanjutnya dibuat sumu yang selanjutnya pulas disebut Sumur Bandung. Pada tahun 1930-an, diatas tanah 3.945 m2 itu, didirikan bangunan bertingkat hasil rancangan Prof. C.P. Wolff Schoemaker. Setelah diresmikan tanggal 26 Oktober 1939, bangunan itu selanjutnya ditempati oleh N.V. Gebeo, usaha listrik Hindia Walanda. Bekas gedung Gebeo yang selanjutnya dijadikan kantor PT (Persero) Perusahaan Listrik Negara Distribusi Jawa Barat itu, adanya diujung pertigaan Jalan Asia-Afrika dan Jalan Cikapundung.  Sumur Bandung adanya di lantai dasar Gedung PLN.Airnya masih tetap bersih dan tidak pernah kering walaupun musim kemarau.

6. Masjid Raya Bandung

Dari beberapa sumber sejarah, Masjid Raya Bandung yang dulunya bernama Masjid Agung, didirikan pada tahun 1810 atau 1812. Renovasi terakhir dilakukan pada 13 Januari 2006 yang dilakukan bersamaan dengan penataan ulang alun-alun kota Bandung, pembangunan dua lantai basement dan tentu saja taman kota.

Masjid Raya Bandung

PIc: wikipedia

Masjid ini mempunyai luas 8,575 m2 dengan tinggi menara 99 m serta memiliki daya tampung hingga 15.000 jamaah. Masjid baru ini, yang bercorak Arab, menggantikan Masjid Agung yang lama, yang bercorak khas Sunda.

Cukup sekian jalan-jalan sore menyisir bangunan-bangunan bersejarah nan unik di jalan Asia Afrika Bandung. Silahkan mencoba jalan-jalan sore di sekitar Pusat Kota Jalan Asia Afrika. Tapi kalau ingin mengunjungi museum, sebaiknya sebelum jam 5 sore. Karena museum tutup jam 5 sore. Have a wonderful afternoon😀


16 thoughts on “Menikmati Sore di Bandung – jalan Asia Afrika (part 1)

  1. wah….. wisata…..

    garai pengen kesana aja….

    Bandung – bandung…. kota yang ingin aku kunjungi.😀

  2. jadi pengen nginep lagi di hotel Savoy Homann dgn suamiku😀

  3. Satu hal yang saya rasakan perubahan Bandung. Sejak 2006 saya tinggal di Bandung (jadi mahasiswa), cuaca di sini makin nggak enak. Semakin panas.😦

  4. Nice blog🙂 di bawah gedung PLN apa gedung merdeka lupa, ada ruang bawah tanah dulunya sempet dijadiin penjara buat pahlawan kemerdekaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s